Info seputar, Cara membuat pupuk,Cara Menanam,Cara stek,Taman Hias,Obat herbal,Seputar Dunia Kesehatan Berserta Tips Sehatnya

 

BUDIDAYA KELINCI HIAS DAN KELINCI POTONG

Seperti halnya tikus, kelinci sangat cepat dalam berkembangbiak. Jika potensi perkembangbiakan kelinci ini dikelola dengan menerapkan teknik ternak kelinci/budidaya kelinci yang baik, maka hal ini akan menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Kelinci dapat melahirkan empat kali setahun, karena masa buntingnya hanya 30-35 hari. Sekali melahirkan bisa 6-12 ekor anak. Umur kelinci cukup panjang. Induk betina mampu berproduksi sampai umur enam tahun, tetapi puncak produksinya sekitar umur tiga tahun. Kalau manajemen pemeliharaannya dikelola dengan baik, sampai umur lima tahun kelinci masih bisa berproduksi cukup baik.

A. Persyaratan Lokasi Budidaya Kelinci

Di Indonesia kelinci dapat diternakkan atau dikembangbiakkan dengan baik di daerah berketinggian di atas 500 m dpl, dan suhu udara sejuk, berkisar 15-18°C (60-85°F).

Di daerah tersebut, umumnya banyak tersedia pakan hijauan yang digemari kelinci, berupa limbah sayuran dan tanaman pangan. Juga berbagai macam rumput dan hijauan pakan ternak lainnya yang disukai kelinci.

Daerah produsen sayuran seperti Lembang, Garut, dan Cipanas di Jawa Barat, sangat ideal untuk mengusahakan ternak kelinci.

B. Seleksi Kelinci Ternak

Produktivitas kelinci sangat tergantung pada pengelolaan. Salah satu unsur yang sangat mendukung pengelolaan adalah seleksi. Seleksi dilakukan secara ketat dan terus-menerus berdasarkan sifat ras, penampilan fisik, usia, tingkah laku, daya produksi, dan nilai ekonomis. Seleksi bibit berdasarkan ras sangat penting, terutama untuk menentukan tujuan peternakan yang terarah.

Seleksi dikerjakan dengan menyisihkan anak kelinci cacat dan lambat pertumbuhannya, dan menyingkirkan kelinci menjelang dewasa yang sifatnya kurang baik, terutama yang disiapkan sebagai calon induk.

Induk yang kurang baik karena mandul, melahirkan anak terlalu sedikit, dan tidak bisa merawat anak, sebaiknya jangan digunakan lebih lanjut dalam usaha ternak kelinci.

Seleksi juga digunakan untuk memilih calon induk jantan maupun betina unggul sesuai dengan persyaratan yang dikehendaki. Antara lain bobot anak ketika dilahirkan, berat sapih setelah menyusui, dan pertumbuhan bobot badan kelinci per ekor per hari atau per minggu tinggi.

C. Kartu Induk Pada Budidaya Kelinci

Seleksi baru berhasil kalau peternak memiliki catatan asal-usul dan data-data tertulis dari setiap ekor kelinci ternak, yang berupa Kartu Induk Betina dan Kartu Induk Pejantan.

Dari data-data kartu induk betina tersebut, dapat diketahui sang induk betina gampang ditunasi pejantan atau tidak, jumlah anak yang dilahirkan, bobot anak lahir dan disapih, serta kekurangan dan kelebihan individu selama pemeliharaan.

Dari data-data kartu induk pejantan tersebut, dapat diketahui mutu kelinci pejantan setelah mengawini betinanya. Pejantan yang sering kawin tetapi tidak bisa membuntingi pasangannya, wajib diganti.

D. Mengamati Dewasa Kelamin Pada Budidaya Kelinci

Tiap ras kelinci memiliki dewasa kelamin berbeda-beda. Antara jantan dan betina pun memiliki dewasa kelamin yang berbeda. Kelinci betina lebih cepat dewasa kelamin dibandingkan dengan kelinci jantan.

Kelinci tipe kecil (berbobot 0,9-2 kg), seperti ras Polish, Dutch, Nederland Dwarf, dewasa kelaminnya berkisar pada umur 3-4 bulan. Kelinci ini dipelihara terutama untuk dinikmati keindahannya sebagai hewan peliharaan atau ternak bias.

Kelinci tipe sedang (berbobot 2-4 kg), seperti ras New Zealand White, Californian, Carolina, Champagne d' Argent, English Spot, dan Simonoire, dewasa kelaminnya berkisar pada umur 5-6 bulan. Kelinci ini dipelihara terutama untuk diambil dagingnya serta daging dan fur-nya.

Kelinci tipe berat (berbobot 5-8 kg), seperti Giant Chinchilla, Flemish Giant, dan Checkered Giant, dewasa kelaminnya berkisar pada umur 7-8 bulan. Untuk kelinci yang lebih berat (berbobot 10-12 kg), dewasa kelaminnya setelah umur setahun. Kelinci tipe berat umumnya dipelihara untuk diambil dagingnya serta daging dan fur-nya.

Berdasarkan ras dan kegunaannya, kelinci dapat diternak untuk lima tujuan, yaitu penghasil wool, fur (kulit bulu), daging, fancy (ternak kesayangan), dan daging dan fur.

Selain tipe, kecepatan atau lambatnya dewasa kelamin kelinci juga dipengaruhi oleh faktor kelinci itu sendiri, lokasi peternakan, pakan yang diberikan, dan sistem perkandangan. Kelinci jantan dan betina yang hidup bercampur jadi satu dalam kandang koloni akan lebih cepat dewasa kelamin dibandingkan yang hidup terpisah di kandang individual.

E. Mengenal Jenis Kelamin Kelinci Ternak

Kelinci jantan dapat dibedakan dari kelinci betina dengan mengamati alat kelaminnya. Mengetahui secara jelas usia dan jenis kelamin setiap kelinci sangat berarti bagi program pembiakan, kontrol mutu keturunan, dan produktivitas peternakan.

Jenis kelamin kelinci mulai bisa dikenali setelah berumur tujuh hari dengan cara memeriksa tonjolan alat kelaminnya. Anak kelinci jantan memiliki tonjolan panjang dan bulat dengan lekuk bulat di tengah. Anak kelinci betina tonjolannya agak pendek, di tengahnya terdapat vulva (celah) memanjang.

Pada umumnya, peternak mulai membedakan jenis kelamin kelincinya setelah anak keluar dari kotak sarang. Seleksi dan pemisahan antara kelinci jantan dan betina mulai dilakukan setelah anak kelinci disapih, sekaligus memindahkan kelinci dalam kandang pembesaran. Sampai umur 1,5 bulan testis (buah pelir) kelinci belum terlihat, penisnya masih samar-samar. Ketika disapih umur 2 bulan, buah pelir jantan sudah terlihat. Setelah dewasa, kantong pelir jantan tampak nyata.

F. Program Kawin Pada Usaha Ternak Kelinci

Kelinci yang sudah dewasa perlu diatur program kawinnya. Periksa data-data induk kelinci berdasarkan tipe, usia, dan ukuran fisiknya. Jangan mengawinkan kelinci ketika usianya masih terlalu muda, karena bibit akan rusak dan bisa tidak produktif. Kelinci pejantan yang dikawinkan pada usia terlalu muda akan kerdil. Hasil perkawinan sering gagal, tidak menghasilkan kebuntingan. Kalau induk betina yang dikawini berhasil bunting, sering kali kondisi anak yang dilahirkan lemah atau cacat.

Pejantan tua yang dipakai sebagai indukan, hasil perkawinannya sering kali kurang sukses menghasilkan kebuntingan. Banyak peternak kelinci menggunakan sistem betina muda dikawinkan dengan pejantan tua, dan pejantan muda dikawinkan dengan betina tua yang masih produktif.

G. Tanda-tanda Dewasa Kelamin Kelinci Ternak

Dewasa kelamin pada kelinci tidak mempunyai tanda-tanda yang teratur. Masa dewasa kelamin atau matang gonad betina muda kadang-kadang cukup lama, tetapi tak mudah terlihat. Betina yang masih muda dapat dicoba dikawinkan pada umur 5,5 bulan. Kalau belum mau kawin, dicoba lagi setiap 10 hari sampai umurnya mencapai 6,5 bulan. Pada masa ini kelinci betina sudah dapat dikawinpaksakan.

Kelinci betina siap kawin, memiliki tanda-tanda yang nyata, sering kali tampak gelisah. Kalau di dalam kandang tak ada pejantan, ia akan berusaha bergabung dengan kelinci jantan yang terdapat pada kandang berdekatan. Ia suka menggosok-gosokkan dagunya pada sesuatu atau sesama betina. vulva-nya. basah, berwarna merah jambu atau merah. Ketika vulva berwarna merah jambu atau merah, artinya kelinci betina berada pada masa subur. Kalau warnanya masih putih atau pucat, perkawinan akan gagal, bahkan mereka bisa berkelahi. Sebaiknya perkawinan ditunda 2-3 hari lagi, atau sampai vulva-nya. berwarna merah jambu.

Kelinci betina yang sudah menunjukkan tanda-tanda siap kawin, kalau tidak segera dikawinkan, sel telurnya masih tetap subur sampai sekitar dua minggu kemudian. Setelah itu, kesuburannya berangsurangsur berkurang. Periode matang kelamin tahap berikutnya terjadi saat sel telurnya kembali masak dan subur.

Sel telur dapat dibuahi karena adanya rangsangan pejantan sewaktu mengawini. Sel telur masak akan turun 10 jam kemudian sesudah kawin, sehingga siap dibuahi. Pengulangan perkawinan sekitar 8 jam kemudian baik sekali hasilnya, karena pembuahan sel telur akan berlangsung sekitar 1-2 jam setelah ovulasi.

H. Pejantan Ideal Pada Budidaya Kelinci

Aktivitas kelinci berlangsung pada malam hari. Perkawinannya pun sebaiknya dilakukan pada malam hari, pagi atau sore hari. Pada saat ini suhu udara sejuk, kondisi terbaik untuk segala aktivitas kelinci. Induk yang akan dikawinkan, selain telah dewasa kelamin juga telah mencapai bobot ideal yang diperlukan. Minimal telah berbobot 2,5 kg untuk kelinci pedaging. Sehat dan dalam kondisi fit.

Seekor pejantan ideal mampu melayani 10 ekor betina. Umumnya dalam kandang koloni, sejumlah kelinci betina dicampur dengan pejantan. Idealnya 5 ekor betina dicampur dengan satu pejantan di dalam satu ruang kandang koloni.

Dalam satu kandang koloni, tidak dibenarkan sampai ada dua pejantan. Keduanya akan berkelahi sampai salah satu di antaranya luka-luka dan cacat seumur hidup. Dalam berkelahi, pejantan cenderung merusak testis lawannya sampai tidak berfungsi.

Dalam pemeliharaan sistem kandang baterai, pejantan dan betina cenderung dipisah satu sama lain. Pejantan dikawinkan seminggu sekali, kadang-kadang dua kali dalam seminggu.

I. Kawin Kandang Pada Ternak Kelinci

Cara mengawinkannya dapat dilakukan dengan memasukkan kelinci betina ke dalam kandang pejantan. Kalau ditolak, ganti dengan pejantan di kandang lain sampai diperoleh pasangan yang disukai. Kalau calon pasangan tak disukai, tak jarang si betina menyerang pejantan dengan garang.

Segera setelah kelinci betina dimasukkan kandang, pejantan akan menciumi mulut, hidung, dan kelamin betina sambil melompat-lompat dan berputar-putar. Kadang-kadang disertai suara mendengus. Betina yang suka dan siap dikawini akan segera mengangkat pantat, melipat ekornya ke atas, dan akan berdiam diri menanti. la tidak menolak tubuhnya dinaiki pejantan untuk dikawini. Bila pejantannya aktif, perkawinan segera berlangsung. Begitu pejantan jatuh terguling di samping betina, perkawinan selesai.

J. Kawin Sodor Pada Ternak Kelinci

Kalau jumlah pejantan terbatas, hanya satu ekor misalnya, perkawinan bisa dibantu dengan memegang kelinci betina. Cara ini mudah, dilakukan kalau kelinci betina maupun pejantan jinak, terbiasa dipegang-pegang peternak.

Kelinci betina dipegang kedua telinganya dengan tangan kanan, telapak tangan kiri disodorkan di bawah perut betina. Di antara kedua kaki belakang kelinci betina, jari telunjuk dan ibu jari memegang dan membuka vulva.
Gerakkan tangan kiri ke belakang pelan-pelan sehingga ekor kelinci betina tegak ke atas. Biarkan pejantan mendekat, mengembus-embus, menaiki, dan mengawini kelinci betina.

K. Penyebab Betina Gagal Bunting Dalam Budidaya Kelinci

Perkawinan tak selamanya menghasilkan kebuntingan. Kegagalan dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, antara lain, umur kelinci sudah terlalu tua, suhu udara terlalu papas saat mengawinkan, perubahan cuaca yang tidak menguntungkan, induk terlalu gemuk, atau kondisi pejantan lemah.

Kelinci berumur di atas tiga tahun, termasuk tua. Pada kondisi tersebut kemampuan reproduksinya sudah melewati masa produktif. Lebih-lebih kalau perawatan dan pakan sehari-harinya jelek.
Kalau suhu udara tinggi, misalnya lebih dari 30° C, sering terjadi penurunan berat badan secara drastis, sekaligus kemampuan reproduksinya juga turun. Pada suhu tinggi, kelinci pejantan sering mengalami kenaikan pH semen, penurunan pergerakan sperma, berkurangnya konsentrasi sperma, dan jumlah sperma abnormal naik. Kelinci pejantan dewasa mengalami steril kalau suhu udara mencapai lebih dari 30° C selama 4-5 hari berturut-turut. Meskipun kelinci pejantan tetap aktif, ketidaksuburannya terus berlangsung sampai dua bulan. Pejantan muda umur 6-7 bulan tidak mudah menjadi steril pada suhu 30-32° C.

Perubahan cuaca yang tak menguntungkan, yaitu perubahan udara dari panas ke dingin yang terlalu mendadak, juga bisa mengakibatkan kegagalan bunting setelah kawin.

Induk betina terlalu gemuk. Penyebabnya, lapisan lemak membungkus sel telur sehingga sulit bertemu dengan sperma. Akhirnya gagal bunting. Induk betina sebaiknya dipuasakan beberapa hari untuk menghilangkan lapisan lemaknya.

Pejantan yang terlalu sering dikawinkan, kondisinya lemah. Perkawinan sering gagal, karena kurang nafsu. Akibatnya, si betina sulit bunting.

L. Menentukan Kebuntingan Pada Ternak Kelinci

Setelah kawin, peternak perlu memeriksa ternaknya. Hasil perkawinan apakah menghasilkan kebuntingan atau gagal. Caranya dengan menguji kembali, meneliti perkembangan perut, dan memerhatikan nafsu makannya.

Menguji kembali dilakukan seminggu setelah perkawinan. Cara ini dilakukan dengan memasukkan kembali kelinci betina ke dalam kandang pejantan yang pernah mengawininya. Kalau ternyata menolak, tidak mau dikawini, kemungkinan besar si betina telah bunting.

Meneliti perkembangan perut dilakukan dua minggu setelah kawin. Bagian perut diraba dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari, pelan-pelan ke arah belakang. Kalau terdapat tunas sebesar kelereng, berarti kelinci telah bunting. Peternak yang telah berpengalaman bisa memeriksa kebuntingan lebih awal, yaitu 7-8 hari setelah kawin.

Kelinci yang pertama kali bunting, perut tidak nampak membesar walau waktu melahirkannya sudah dekat. Kepastian buntingnya dapat diamati dengan memperhatikan nafsu makannya. Bila badan kelinci bertambah besar, nafsu makan semakin tinggi, dapat dipastikan kelinci tersebut bunting. Bila nafsu makan biasa, perkembangan badannya tidak tambah, berarti kelinci tersebut tidak bunting.

M. Menangani Kelinci Betina Selama Bunting Pada Budidaya Kelinci

Kelinci bunting membutuhkan perawatan yang lebih baik daripada biasanya. Perawatan dilakukan untuk menjaga kesehatan induk sekaligus anak yang dikandungnya. Tujuannya agar induk melahirkan anak yang sehat, dan induknya sendiri selamat.

Perawatan yang diperlukan antara lain meningkatkan jumlah pakan yang diberikan, menjaga air minum jangan sampai kurang, menjaga ketenangan suasana kandang, menjaga sanitasi kandang dan lingkungan lebih baik.

Pakan diperbanyak, mutu gizi ditingkatkan. Selain pakan hijauan dinaikkan volumenya, konsentrat juga diberikan sebagai pakan tambahan. Tambahan pakan ini untuk mencukupi kebutuhan protein, asam amino, vitamin, dan mineral untuk induk maupun anak yang dikandung. Pakan induk bunting membutuhkan kadar protein 1620%, lemak 3-5,5%, serat kasar 14-20%, dan mineral 4,5-6,5%.

Per ekor induk bunting setiap harinya membutuhkan pakan 1-2 kg rumput atau hijauan, dan 135-335 gram konsentrat (sekitar 6,7% dari bobot hidup). Konsentrat yang dapat diberikan terdiri dari campuran dedak halus dan ampas tahu ditambah 5% mineral. Mineralnya dua bagian garam dapur, dua bagian tepung tulang, dan satu bagian tepung kapur mati.

Selama mengandung, kelinci membutuhkan banyak air. Kecukupan air sangat membantu pertumbuhan janin, sekaligus menjaga kondisi kesehatan induk. Kalau induk kekurangan air minum selama bunting, anak yang baru lahir dapat dimakan induknya sendiri.

Selama bunting suasana kandang hams tenang. Udara bersih dan nyaman. Suasana gaduh dan hiruk pikuk dapat membuat kelinci stres. Akhirnya bisa menimbulkan keguguran.

N. Menangani Kelinci Bunting 27 Hari Pada Budidaya Kelinci

Sanitasi kandang harus diperhatikan sebaik-baiknya. Kandang yang terawat kebersihannya akan menjauhkan kelinci dari gangguan penyakit. Kandang dan lingkungan yang bersih akan membuat kelinci hidup lebih tenang dan nyaman.

Setelah usia bunting mencapai 27 hari, sediakan kotak sarang di dalam kandang. Kotak sarang berfungsi sebagai liang dalam tanah untuk tempat berlindung. Alas kotak dilapisi rumput kering sebagai tempat bersarang.

Sekitar dua atau tiga hari kemudian induk kelinci akan mencabuti bulu tubuhnya sendiri. Bulu diletakkan di dalam kotak sarang. Mulai saat inilah induk kelinci bersiap-siap melahirkan anaknya.

0. Susu Induk Kelinci Ternak

Pada hari ke-30 sampai ke-32, anak kelinci sudah lahir. Kelinci melahirkan pada malam hari. Anak kelinci dilahirkan dalam keadaan tidak berbulu, buta, dan tuli. Induk kelinci menyelimuti anak-anaknya agar tidak kedinginan.

Seekor induk kelinci dapat melahirkan anak 4-12 ekor, tapi rata-rata hanya 6-8 ekor anak sekali melahirkan. Induk kelinci memiliki delapan puting susu. Namun yang berfungsi baik hanya enam puting, sementara dua puting lainnya yang terletak paling depan kurang berfungsi. Bila jumlah anak kelinci lebih dari enam ekor, kemungkinan besar sisanya bakal kekurangan susu. Air susu kelinci mengandung 120 gram protein dan 155 gram lemak per kg. Puncak produksi antara 12-28 hari laktasi (masa kelinci berproduksi susu). Setelah 28 hari laktasi, air susu mengandung 125 gram protein dan 186 gram lemak per kg. Produksi susu mulai berhenti setelah 45 hari menyusui.

Selama menyusui, kelinci membutuhkan pakan yang sama mutunya dengan ketika induk kelinci bunting, yaitu mengandung protein 16-20%, lemak 3-5,5%, serat kasar 14-20%, dan mineral 4,5-6,5%. Hal ini dapat dipenuhi dengan memberikan pakan pokok berupa rumput atau hijauan, ditambah 6,7% dari total berat hidup kelinci berupa konsentrat.

Selama menyusui, seekor induk kelinci dapat mengonsumsi 0,5-1,5 kg hijauan dan 200-400 gram konsentrat per hari. Selain itu, kelinci membutuhkan banyak air minum. Kecukupan air minum sangat membantu pertumbuhan anak kelinci sehingga mampu berkembang dengan pesat.

P. Mengamati Pertumbuhan Anak Kelinci Pada Budidaya Kelinci

Umur tujuh hari, tubuh anak kelinci mulai tumbuh bulu. Mata mulai terbuka, dan umur sepuluh atau sebelas hari baru dapat melihat. Seminggu kemudian, umur 17 atau 18 hari, anak kelinci mulai keluar dari kotak sarang. Sejak lahir sampai keluar sarang, anak kelinci menyusu pada malam hari atau pagi hari.

Setelah keluar dari kotak sarang, anak kelinci mulai belajar makan sendiri. Mereka meloncat-loncat, berlari-lari, makan rumput mengikuti jejak induknya. Karena alat pencernaannya belum begitu kuat, pakannya jangan terlalu banyak mengandung serat kasar. Sambil belajar makan, anak kelinci masih menyusu pada induknya.

Anak kelinci disapih setelah mampu makan sendiri, umumnya paling lambat pada umur delapan minggu (56 hari). Mengingat pada minggu keenam (42 hari) susu induk sudah susut, biasanya pada saat itu sang anak sudah mulai disapih oleh induknya. Jadi, sebenarnya anak kelinci bisa disapih lebih awal.

Derajat angka kematian anak kelinci tinggi, mencapai 20-25%. Kematian ini menyebabkan hanya 5-6 ekor anak kelinci yang hidup waktu disapih.

Q. Bobot Sapih Anak Kelinci

Anak kelinci yang disapih dapat sekaligus diteliti jenis kelaminnya. Kumpulkan jantan dengan jantan, betina dengan betina. Setiap kelompok dipelihara dalam kandang tersendiri, yaitu kandang pembesaran atau kandang koloni. Di kandang pembesaran anak kelinci dipelihara sampai umur empat bulan.

Anak kelinci umur empat bulan dapat diseleksi. Pisahkan individu yang akan dikembangkan menjadi calon indukan baru dan yang diapkir atau dijual sebagai ternak potong. Anak kelinci yang dibesarkan membutuhkan pakan dengan kadar protein 17%. Pakannya terdiri dari hijauan dan konsentrat.

Bila perawatan dan pakannya baik, kelinci ras seperti New Zealand White dapat mencapai bobot 2-3 kg/ekor pada umur empat bulan. Bila persentase karkasnya 50-60%, kelinci muda yang dipotong dapat menghasilkan daging sekitar 1-1,5 kg/ekor.

R. Kelahiran Terencana Pada Ternak Kelinci

Perkembangbiakan kelinci dapat diatur dengan kelahiran terencana. Kelahiran untuk kelinci terjadi 31-32 hari sesudah saat perkawinan yang berhasil, karena kebuntingan kelinci berlangsung selama 28-35 hari. Berikut ini data-data biologi kelinci.

Data Biologi Kelinci
Lama hidup : 5-10 tahun
Lama produksi : 1-3 tahun
Lama bunting : 28-35 hari
Lama penyapihan : 6-8 minggu
Umur dewasa : 4-10 bulan
Umur dikawinkan : 6-12 bulan
Kawin sesudah beranak : 1 minggu setelah anak disapih
Siklus kelamin : poliestrus dalam setahun bisa 5 kali bunting
Siklus birahi : sekitar 2 minggu
Periode estrus : 11-15 hari
Ovulasi : terjadi pada hari kawin (9-3 jam kemudian)
Fertilitas : 1-2 jam sesudah kawin
Jumlah anak lahir : 4-10 ekor
Volume darah : 40 ml/kg berat badan
Bobot dewasa : sangat bervariasi, tergantung pada ras, jenis kelamin, dan faktor pemeliharaan

Kelinci tipe sedang (bobot dewasa 4 kg) mulai dikembangbiakkan setelah berumur 6-7 bulan. Lama induk mengandung sekitar 31 hari. Lama induk mengasuh anak 56 hari. Berdasarkan data itu, kelinci dapat diprogram melahirkan anak empat kali dalam setahun. Dasar perhitungannya sebagai berikut.

31 hari mengandung + 56 hari menyusui = 87 hari
31 hari mengandung + 56 hari menyusui = 87 hari
31 hari mengandung + 56 hari menyusui = 87 hari
31 hari mengandung + 56 hari menyusui = 87 hari
Jumlah = 348 hari

Bila sekali melahirkan rata-rata menghasilkan enam ekor anak, dalam setahun dari satu pasang kelinci dapat diperoleh kelinci baru 4 x 6 ekor = 24 ekor anak. Ini belum termasuk kelinci dewasa yang juga bisa berkembang biak.

Dengan mempersingkat masa menyusui dari 56 hari menjadi 28 hari, kelahiran kelinci dapat ditingkatkan menjadi delapan kali setahun. Kalau rata-rata menghasilkan enam ekor anak, dalam setahun dari satu pasang induk dapat diperoleh kelinci 8 x 6 ekor = 48 ekor anak.

Program kelahiran diatur berpangkal pada kapan induk dikawinkan lagi setelah melahirkan. Anak kelinci yang telah mencapai umur 28 hari dapat disapih dengan memindahkan ke kandang pembesaran.

Anak dipisahkan ketika berumur 28 hari setelah dilahirkan. Anak yang disapih pada umur itu berukuran kecil dan kondisi karkasnya pun kurang memuaskan dibandingkan anak yang disapih setelah berumur 42-56 hari. Namun, penyapihan lebih awal tersebut memungkinkan jumlah litter yang lebih banyak dalam masa setahun. Selain itu, disapih umur berapa pun, anak kelinci biasanya dipotong setelah berumur 56 hari.

S. Potensi Besar Ternak kelinci

Kelinci memiliki potensi besar sebagai ternak penghasil daging. Secara teoretis sepasang induk kelinci dapat menghasilkan 80 kg daging dalam setahun. Hal ini berdasarkan daya produksi kelinci menghasilkan anak, dan kemampuan kelinci mengonsumsi pakan yang tidak dimanfaatkan manusia dan ternak industri intensif seperti ayam ras petelur dan pedaging.

Satu pasang kelinci umur 5-6 bulan dalam setahun akan melahirkan 4-5 kali. Setiap satu kali kelahiran akan menghasilkan rata-rata enam ekor anak. Bila setahun melahirkan empat kali, akan diperoleh anak 4 x 6 ekor = 24 ekor.

Bila 50% anak dijadikan induk baru, akan diperoleh 12 ekor induk baru atau enam pasang induk baru. Jika dari enam pasang induk baru tersebut pada tahun pertama melahirkan tiga kali (per pasang induk menghasilkan anak enam ekor sehingga diperolah 18 ekor induk muda), akan diperoleh 108 ekor induk muda.

Pada tahun pertama itu juga, kelinci muda yang dapat dipotong adalah 24 ekor + 108 ekor = 132 ekor. Kalau berat rata-rata kelinci muda 2 kg/ekor, persentase karkas 50%, akan diperoleh daging 50% x 2 kg x 132 ekor = 132 kg daging.

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAMUR KUPING

Budidaya Jamur Kuping - Jamur telah dikenal dan populer sebagai makanan lezat sejak abad XIV M. Jamur telah menjadi santapan spesial bagi pejabat negara saat dinasti Ming berkuasa di daratan China. Kelezatan dan rasa khas jamur tersebar di seluruh penjuru dunia sejak terbukanya perdagangan dan komunikasi penduduk antar-negara dan benua. Jamur telah menjadi hidangan favorit sekaligus bergengsi.

Budidaya jamur kuping dapat dikelola sebagai usaha sampingan ataupun usaha ekonomis skala kecil, menengah, dan besar ( industri). Negara-negara yang telah mengembangkan budidaya jamur kuping sebagai industri agribisnis andalan dan unggulan adalah China, Belanda, Spanyol, Francis, Belgia, dan Thailand. Negara-negara tersebut termasuk produsen jamur terbesar di dunia.

Budidaya Jamur Kuping

Pemeliharaan pada budidaya jamur kuping sangat sederhana, yaitu menciptakan dan menjaga kondisi lingkungan budidaya (cultivation) yang memenuhi syarat tumbuhnya. Langkah-langkah budidaya jamur kuping meliputi pembuatan atau perbaikan (rehabilitasi) rumah jamur (kumbung), perawatan miselium dan tubuh buah, pengendalian hama atau penyakit, dan pemanenan.

Budidaya Jamur

A. Pembuatan atau Rehabilitasi Rumah Jamur Kuping (Kumbung)

Rumah jamur kuping yang sederhana dapat dibuat dari kerangka kayu (bambu) beratap daun rumbia, anyaman bambu, atau anyaman jerami padi. Ukuran kumbung yang ideal adalah 84 m² (panjang 12 m, lebar 7 m) dan tinggi 3,5 m. Bentuk kumbung mirip gerbong kereta api, tiang bawah kumbung jamur berdiri tegak dan atapnya melengkung setengah lingkaran.

Ruangan kumbung budidaya jamur kuping dilengkapi rak atau para-para (shed) yang dipasang berjajar, berderat, dan bersusun berlapis-lapis di antara sisi-sisi tiang penyangga. Ukuran rak disesuaikan dengan ukuran polybag (kantong miselium) bibit jamur yang akan di inkubasi dan ditanam. Rak kumbung terdiri atas unit-unit rak yang terpisah oleh jalan utama dan jalan simpang yang membelah ruangan. Unit rak berupa sekat-sekat atau susunan kayu horizontal atau membujur berlapis-lapis yang dipasang kokoh dan rapi di antara tiang penyangga. Lebar dan tinggi setiap unit rak dibuat sekitar 2 x 20 cm (panjang polibag) atau sekitar 40 cm, sedangkan panjangnya 3 m atau disesuaikan dengan ukuran lebar kumbung.

Deretan unit-unit rak dipasang secara teratur pada sisi kiri dan kanan ruangan sehingga bagian tengah kumbung terdapat jalan selebar 1 m dan di antara unit-unit rak terdapat jalan simpang selebar 80 cm.

Pembuatan susunan (sekat) unit-unit rak yang ideal tidak lebih dari 5 lapisan. Setiap lapisan rak ini mampu memuat atau menampung polybag sebanyak 2 kantong ke arah vertikal dan 15 — 16 buah ke arah horizontal. Unit rak ukuran 3 m (panjang) dan 40 cm (lebar dan tinggi) dapat diisi sekitar 60 kantong polybag sehingga seluruh unit rak yang tersusun 5 lapis dapat diisi sekitar 300 kantong polybag.

Susunan rak lapisan bawah dibuat sekitar 20 cm — 25 cm di atas permukaan lantai dasar agar sirkulasi udara pada bagian ini tidak terhambat dan tubuh buah jamur yang tumbuh pada lapisan rak paling bawah ini tidak menyentuh dan terkontaminasi oleh kotoran yang mencemari lantai dasar. Demikian pula, ruangan kumbung tidak dipenuhi oleh unit-unit rak. Sediakan tempat kosong sekitar 25% dari luas lantai dasar ruangan kumbung pada salah satu sisi ruangan sebagai tempat inkubasi. Pada setiap rumah jamur ukuran 84 m² dapat dibuat sekitar 18 — 20 unit rak dengan 1 unit lantai inkubas.

Atap dan dinding kumbung ditutup rapat dan kokoh. Atap kumbung yang praktis dan hemat biaya dapat dibuat dari anyaman daun rumbia. Dinding rumah jamur sisi panjang dibuat 2 lapisan, yaitu lapisan atas dibuat dari anyaman bambu sedangkan lapisan bawah setinggi 1 m dibuat dari lapisan plastik bening (transparan). Jika kondisi yang kurang baik, khususnya kelembaban ruangan kumbung agak rendah, maka seluruh atap dan dinding kumbung perlu dilapisi lembaran plastik.

Pada dinding kumbung bagian atas diberi lubang ventilasi terbuka sedangkan dinding kumbung bawah diberi lubang ventilasi khusus yang dapat dibuka atau ditutup kembali. Lubang ventilasi dinding atas pada kumbung ukuran ideal sebanyak 4 buah. Dua buah ventilasi terdapat pada dinding kumbung sisi kiri dan sisanya terdapat pada dinding kumbung sisi kanan. Untuk mencegah masuknya burung-burung atau binatang liar lain, maka pada ventilasi terbuka dipasang kawat kasa yang dijepit bingkai bambu pada keempat sisi-sisinya. Sedangkan ukuran setiap ventilasinya adalah 60 cm x 40 cm.

VentiIasi pada dinding bagian bawah berupa jendela plastik yang disobek membentuk huruf L atau U. Tujuannya adalah agar sobekan plastik tersebut dapat dibuka dan ditutup atau dirapatkan kembali. Jumlah dan ukuran ventilasi sama dengan ventilasi terbuka, sedangkan letaknya sekitar 1 m samping kiri atau kanan ventilasi terbuka.

Rumah jamur di lengkapi dengan pintu utama yang dipasang pada bagian depan. Pintu ini dibuat dari anyaman bambu yang dibingkai dengan kerangka kayu papan atau bilah-bilah bambu.

Masa pakai optimal rumah jamur sederhana dari kerangka kayu, atap daun rumbia, serta dinding anyaman bambu dan lembaran plastik tersebut sekitar 2 tahun atau sekitar 4 peroide produksi. Selanjutnya, rumah jamur tersebut dapat dibongkar dan dibangun kembali rumah jamur sederhana dengan bahan-bahan baru atau diperbaiki (direhabilitasi) dengan mengganti bahan-bahan yang telah rusak.

Budidaya Jamur Kuping

B. Perawatan Miselium dan Tubuh Buah Jamur Kuping

Bibit jamur (miselium) F4 hasil pembelian atau produksi sendiri dapat diangkut dan dimasukkan dalam kumbung yang telah disiapkan. Jumlahnya disesuaikan dengan ketersediaan bibit dan kapasitas kumbung. Pada kumbung ukuran 84 m² dan tinggi 3,5 m dapat ditanam sekitar 5.000 kantong polybag bibit jamur kuping.

Letakkan polybag tersebut di atas permukaan lantai inkubasi yang telah disediakan, yaitu permukaan lantai kosong yang tidak ditutup rak. Posisi polybag adalah vertikal, alas polybag di bawah, dan bagian permukaan tempat pesemaian miselium yang ditutup (disumbat) kapas di atas.

Bibit jamur pada lantai inkubasi tersebut dibiarkan selama 1,5 buIan hingga miselium tumbuh dengan sempurna. Masa penanaman ini disebut inkubasi. Selama masa inkubasi, miselium akan tumbuh menutupi permukaan dan pori-pori media tumbuh dalam polybag. Miselium yang tumbuh baik akan menutup sekitar 70% permukaan dan pori-pori media tumbuh.

Usai masa inkubasi dilanjutkan dengan penanaman. Bibit jamur yang tumbuh baik segera disusun di atas lapisan-lapisan rak. Sambil menyusun polybag bibit jamur, sekaligus dilakukan seleksi. Bibit yang tidak tumbuh baik dan terkontaminasi oleh kotoran dan jamur lain dikumpulkan dalam karung dan dibuang atau dibakar.

Polybag disusun miring ke kiri dan ke kanan. Bagian atas (tutup) polybag miring ke arah jalan simpang sedangkan alasnya saling bersinggungan.

Selesai penyusunan polybag dapat dilakukan monitoring pertumbuhan miselium. Dalam monitoring ini dilakukan pemeriksaan atau identifikasi ulang terhadap miselium dalam polybag. Jika dijumpai miselium dalam polybag yang tumbuh kurang baik, maka harus segera diambil dan dibuang, kemudian diganti dengan polybag lain atau dibiarkan kosong.

Setelah seluruh atau sekitar 75% permukaan pori-pori media tumbuh tertutup oleh miselium jamur kuping, maka segera dilakukan penumbuhan jamur dengan cara menyobek plastik polybag. Penyobekan dilakukan pada bagian lengkung di dekat ujung polybag. Sobekan membentuk huruf L atau lubang segi empat berukuran 1 cm x 1 cm. Sobekan berbentuk huruf L harus membentuk siku-siku terbuka ke arah ujung polybag.

Biasanya, sekitar 15 hari kemudian, calon tubuh buah jamur (pin head) akan tumbuh pada sobekan tersebut. Penyobekan kantong polybag diulangi lagi dengan cara yang sama setelah calon jamur berumur 15 hari atau sekitar 30 hari sejak penanaman polybag. Posisi penyobekan kedua sebaiknya berseberangan dengan letak (posisi) sobekan sebelumnya. Tujuannya adalah agar terjadi pemerataan pemanthatan cumber nutrisi yang terkandung dalam media tumbuh sekaligus memudahkan pelaksanaan pemetikan dan menjamin kontinuitas panes.

Pekerjaan pokok dan rutin selama perawatan miselium dan tubuh buah jamur kuping adalah penyiraman, pengontrolan kelembaban dan sirkulasi udara, serta kebersihan kumbung. Penyiraman dilakukan setelah tubuh buah jamur yang tumbuh pada sobekan pertama berumur 15 hari atau sekitar 2,5 bulan sejak masa inkubasi. Penyiraman dilakukan dengan menyemprotkan kabut air memakai sprayer yang dilengkapi nozzle.

Rumah jamur kuping raksasa dan di bangun permanen dapat dilengkapi dengan alat semprot otomatis (presage chamber) untuk mengatur semprotan air bersih dan berkabut yang mucrat melalui nozzle yang dipasang pada tiang atau dinding.

Penyiraman pertama dilakukan sampai tubuh buah jamur basah dan meneteskan air. Sedangkan penyiraman berikutnya dilakukan secara rutin setiap hari sesuai dengan kondisi udara (cuaca). Penyiraman pada musim panas serta suhu udara cukup tinggi dan kelembaban ruangan kumbung agak rendah dilakukan sebanyak 2 — 4 kali sehari. Frekuensi penyiraman saat suhu udara terlalu tinggi yang dibarengi dengan tiupan angin kencang dilakukan sebanyak 5 kali sehari.

Tindakan yang dilakukan jika tidak ada angin dan sirkulasi udara dalam kumbung terhambat serta tidak terjadi hujan adalah membuka atau menyingkapkan ventilasi plastik pada dinding kumbung bagian bawah. Kebersihan kumbung selama pemeliharaan harus dijaga dengan baik. Setiap selesai panen, lantai dasar kumbung harus ditaburi kapur. Tindakan ini untuk mencegah serangan penyakit atau serangga pengganggu sekaligus menciptakan kondisi rumah jamur tetap sehat.

Budidaya Jamur Kuping

C. Pengendalian Hama dan Penyakit Jamur Kuping

Masalah utama pemeliharaan jamur kuping adalah kontaminasi dan serangan hama. Pelaksanaan sterilisasi ruangan dan peralatan serta media tumbuh pada pembiakan miselium F4 yang kurang sempurna akan memudahkan kontaminasi oleh jamur lain. Jenis jamur yang seringkali mengkontaminasi miselium atau calon tubuh buah (pin head) jamur kuping adalah Trichoderma sp. Jamur ini berwarna hijau dan tumbuh seperti lumut pada permukaan media.

Acapkali, miselium polybag jamur kuping terkontaminasi oleh jamurjamur penyaing (kompetitor) yang tumbuh berupa bintik-bintik hitam pada permukaan media. Jamur-jamur yang belum dapat diidentifikasi jenisnya ini tumbuh dan memanfaatkan nutrisi media tumbuh sebagai habitat dan sumber makanan.

Masalah lain adalah kebersihan ruangan dan fluktuasi kandungan air dalam media tumbuh. Rumah jamur yang dibuat sederhana mudah kotor dan terpolusi oleh kotoran-kotoran yang bersumber dari bahan-bahan pembuatan kumbung atau bahan-bahan lain. Pelaksanaan penyiraman yang kurang baik juga akan menyebabkan fluktuasi kandungan air media tumbuh. Kelebihan atau kekurangan air media tumbuh akan menyebabkan pertumbuhan jamur tidak normal dan mudah terkontaminasi oleh jemur lain.

Untuk menghindari kontaminasi dan serangan hama atau penyakit perlu dilakukan tindakan pencegahan (preventif). Tindakan pertama adalah menjaga kebersihan rumah jamur dan tempat inkubasi serta rak penanaman (pemeliharaan). Tindakan kedua adalah membuang dan memusnahkan kantong polybag yang terkontaminasi jamur lain atau hama. Tindakan lain adalah menjaga kebersihan alat pembiakan, pengawasan dan pengontrolan pelaksanaan strerilisasi peralatan serta media tumbuh, dan menjaga kebersihan rumah jamur dengan penyemprotan pestisida sebelum dilakukan penanaman atau selama pemeliharaan dan setiap usai pelaksanaan panen.

Budidaya Jamur

D. Panen Jamur Kuping

Jamur kuping dipanen saat perturnbuhan tubuh buah telah maksimal. Masa pertumbuhan jamur kuping ditandai oleh perubahan tepi atau pinggiran tubuh buah yang bergelombang dan tidak rata. Waktu panen paling tepat adalah pada umur 3 4 minggu terhitung sejak pembentukan calon tubuh buah (pin head) dan ukuran panjangnya telah maksimal atau beratnya telah mencapai sekitar 65 gr.

Panen dilakukan secara manual dengan eara mencabut jamur beserta akarnya. Pelaksanaan panen seringkali mengalami kesulitan saat mencabut akar. Akar jamur yang tidak tercabut akan membusuk dan mengganggu pertumbuhan calon jamur yang akan berkembang di sekitar pembusukan akar. Akar jamur yang tidak tercabut hares diambil paksa dengan dicungkil memakai kayu atau dijepit dan dicabut dengan penjepit khusus.

Panen jamur pada satu periode penanaman selama 5 — 6 bulan dapat dilakukan sebanyak 4 -5 kali. Dalam kondisi yang balk dapat dipanen hingga 6 kali. Selanjutnya, media tumbuh hanya menghasilkan tubuh buah jamur yang berukuran kecil sehingga perlu diganti dengan bibit bare dari hasil pembiakan yang lebih balk dan mutunya terjamin.

Budidaya Jamur

Pasca Panen Jamur Kuping

Jamur kuping dapat dikonsumsi dalam bentuk segar atau disimpan dalam keadaan kering serta diolah menjadi produk awetan. Jamur kuping yang baru dipetik (dipanen) segera dicuci dengan air bersih. Pangkal jamur dipotong, kemudian kotoran, spora, dan air media yang menempel pada permukaan tubuh buah dibersihkan dan dicuci. Caranya, permukaan tubuh buah dibasahi air, kemudian digosok pelan-pelan hingga seluruh kotoran dan spora yang berwarna putih lenyap. Karena tubuh buah jamur mudah robek, pekerjaan ini sebaiknya dilakukan dengan hati-hati.

Jamur yang telah bersih dapat langsung direbus atau dimasak dan dikonsumsi sebagai hidangan lezat atau dikeringkan, kemudian disimpan sebagai persediaan sayuran. Macam masakan jamur kuping yang telah dikenal dan disukai oleh masyarakat Indonesia adalah sup jamur, sukiyaki, tauco jamur, tumis jamur, acar jamur kuping, timlo dan nasi, atau mie goreng jamur kuping. Beberapa resep dan cara mengolah jamur kuping menjadi masakan lezat dapat dilihat pada lampiran 1 — 7.

Sebagai persediaan sayuran, jamur kuping harus disimpan dalam keadaan kering. Pengeringan dilakukan secara manual dengan menjemur Baran tubuh buah jamur di atas para-para atau pengeringan mekanik menggunakan oven. Pengeringan secara manual dilakukan selama 3 — 4 hari. Pengeringan dilakukan pada tempat-tempat terbuka. Selama pelaksanaan pengeringan dilakukan pembalikan berulang-ulang agar tingkat kekeringannya merata dan sempurna. Selanjutnya, jamur kuping dikemas dan disimpan pada tempat atau ruangan teduh, sejuk, dan sirkulasi udaranya lancar.

Untuk penyimpanan jangka panjang (lama), bungkus kemasannya harus tertutup rapat. Pengemasan (packing) untuk penyimpanan sebaiknya menggunakan kantong plastik tebal. Jamur kuping disusun berlapis-lapis dalam kantong plastik. Setelah isi kantong penuh, mulut permukaan kantong plastik ditangkupkan, kemudian ditekan sedikit untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Dalam keadaan hampa udara, tangkupan mulut kantong plastik dilipat dan diikat dengan karet atau tali rafia.

Kemasan jamur kuping dalam kantong plastik dimasukkan dalam wadah berupa kotak kayu atau karton tebal yang rapat dan tidak bocor. Kemasan jamur disusun berlapis-lapis dan setiap kotak (karton) dapat diisi sesuai dengan kapasitasnya.

Untuk mencegah serangan hama perusak karton dan kemasan jamur, maka setiap kotak penyimpanan diisi CS2 yang dimasukkan dalam botol kecil. Sumbat mulut botol dengan kapas, kemudian selipkan botol ini di tengah-tengah susunan kantong plastik jamur dalam karton. Susun kotak penyimpan kemasan jamur kuping dalam keadaan tertutup.

Penyimpanan jamur kuping kering dalam kemasan kantong plastik dan kotak karton yang baik dan tidak bocor dapat bertahan selama 1 tahun. Penyimpanan dalam jumlah banyak dan jangka panjang sebaiknya lantai ruangan yang digunakan dilengkapi dengan kayu papan yang diberi sepatu. Sedangkan penyimpanan terbatas dapat ditaruh di atas lantai yang dilapisi kertas atau lembaran plastik.

STEK TANAMAN

Bibit setek adalah bibit vegetatif yang diperoleh dengan memperbanyak bagian tanaman yang mampu membentuk akar secara cepat, yaitu batang/cabang, akar, dan anakan.

Cabang atau batang untuk bahan bibit setek telah berumur 1-3 tahun, bermata tunas sehat, dan berasal dari pohon induk yang telah berbuah selama 2-3 musim berturut-turut.

Cabang yang telah berumur 1-2 tahun memiliki kulit berwarna kecokelat-cokelatan, minimal berukuran sebesar pensil. Kalau cabang terlalu kecil atau berasal dari tunas air, bibit setek akan mudah kering dan mati. Kalaupun bisa tumbuh, sifat tanaman mudah rapuh dan masa berbuah menunggu lama. Kalau cabang yang digunakan terlalu tua, bibit setek tidak cepat menghasilkan akar yang sempurna.

Cabang bermata tunas sehat memiliki pertumbuhan yang paling sempurna. Kalau mata tunas cabang tidak sehat atau rusak, besar kemungkinan bibit setek yang tumbuh keadaannya akan merana. Bahkan bibit bisa tidak tumbuh sama sekali.

Kalau cabang bahan setek berasal dari tanaman yang telah berproduksi 2-3 kali berturut-turut, bibit yang diperoleh memberi kepastian bahwa bahannya bagus. Kalau pohon induk yang dipakai bersifat unggul, dapat dipastikan mutu buah dari tanaman baru itu pasti sama dengan pohon induknya.

Teknik pembuatan bibit setek sangat sederhana. Sifat-sifat unggul pohon induk yang diinginkan dapat menurun dengan sempurna pada tanaman baru. Buah yang dihasilkan nantinya pun bermutu serupa pohon induknya.

Namun tidak semua tanaman buah bisa diperbanyak dengan setek. Tanaman buah-buahan yang bisa diperbanyak dengan setek sangat terbatas jenisnya. Misalnya anggur, arbei, delima, jeruk manis, jambu air, jambu mete. mangga, dan salak. Jambu biji, jambu sukun, dan kesemek juga bisa diperbanyak dengan setek, tetapi setek akar. Salak diperbanyak dengan setek tunas.

Stek Batang

Pada dasarnya, stek dari ketiga bagian tanaman yang diambil untuk stek, yaitu batang, akar, dan anakan atau tunas, hanya stek batang yang paling tidak mudah untuk dilakukan, terutama untuk tanaman yang berkayu.

Stek batang dibedakan menjadi tiga jenis dari cara pengambilan batang yang digunakan untuk stek, yaitu stek lunak, stek setengah lunak, dan stek keras. Perbedaan antara tiga jenis stek tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Stek lunak dibuat dari pucuk ranting/cabang muda yang masih dalam masa tumbuh,
  2. Stek setengah lunak dibuat dari ranting/cabang yang sudah berhenti pertumbuhannya dan mulai menua batang maupun daunnya. Tetapi, batangnya masih belum mengayu. Umurnya tidak kurang dari satu tahun, berukuran sebesar pensil, dan masih berdaun.
  3. Stek keras adalah dahan yang sudah berumur tak kurang dari satu tahun, berukuran sebesar pensil dan masih berdaun.
Cara membuat ketiga jenis stek batang tersebut adalah sama. Langkah pembuatannya sebagai berikut.
  1. Siapkan media berbentuk campuran kompos halus dan pasir yang bersih dari lumpur. Dapat juga dipergunakan serbuk gergaji kayu. Perbandingan antara pasir dan kompos adalah 1 : 1.
  2. Masukkan media di dalam pot atau bak dari kayu yang kedalamannya minimum 10 cm. Isi pot atau bak hingga 3 cm di bawah bibir pot atau bak.
  3. Kemudian basahi media dalam pot dengan air yang bersih dan biarkan air yang berlebihan mengalir keluar.
  4. Untuk stek lunak dan setengah lunak, potong ranting sepanjang 10-12,5 cm di bawah tangkai daun. Diameter stek ± 0,5 cm. Buang daun bagian bawah, kurang lebih setengah dari seluruh daun.
  5. Untuk stek keras panjang ranting atau dahan 15-20 cm, dan dipotong di bawah bagian setengah lunak di atas kuntum daun, sedangkan di bagian bawah dipotong di bawah kuntum daun. Paling sedikit 3 helai daun dibiarkan di atas bagian atas stek. Daun yang lebar dipotong setengahnya.
  6. Manfaatkan zat perangsang tumbuh (ZPT) dalam bentuk tepung atau cairan. Masukkan 2-3 cm pangkal stek ke dalam zat tersebut.
  7. Masukkan pangkal stek ke dalam media.
  8. Kerudungi stek dengan plastik yang tembus sinar, setelah sebelumnya disemprot dengan sprayer.
  9. Letakkan di tempat yang teduh.
  10. Bila dalam waktu 1 minggu daun pucuknya masih segar, kemungkinan besar stek akan berakar.
  11. Bergantung pada jenis tanaman, umumnya pada umur 1 bulan atau lebih stek sudah dapat dipindahkan ke dalam pot individu.
  12. Dalam pot individu ini stek dibiarkan tumbuh hingga cukup besar untuk dipindahtanamkan ke lahan. Usahakan jangan sampai semaian stek ini mengalami kekeringan, jaga kelembapannya. Namun, jangan sampai terlalu banyak air. Pada umumnya stek keras lebih lama mulai berakarnya.

BACA JUGA TAMAN STEK

Berita Terbaru

Blog Archive