Bonsai merupakan sebuah upaya seni untuk mengkerdilkan tanaman sebagai
represintasi dari keindahan panorama alam yang penuh dengan beraneka
ragam pepohonan, baik bentuk jenis dan warnanya.
Sejarah Bonsai
Bagi
yang sering menikmati keindahan alam tersebut, baik di dataran tinggi
maupun dataran rendah pasti memiliki keinginan untuk menanam keindahan
pepohonan tersebut. Masalah tempat atau lahan, bagi yang memiliki
halaman luas mungkin tidak kesulitan. Akan tetapi hal itu pun tidak
menjamin bahwa pohon yang kita tanam akan segera tumbuh. Dan tentu saja
membutuhkan waktu bertahun-tahun agar bisa tumbuh besar seperti di alam.
Keadaan
tersebut tentu saja sangat membatasi keinginan para penggemar keindahan
alam untuk memiliki dan memelihara pohon-pohon yang tinggi dan besar.
Untuk mengatasi masalah tersebut, beratus-ratus tahun yang lampau bangsa
Tiongkok dan Jepang mencoba teknik penanaman pohon di dalam pot. Mereka
berusaha mendekatkan tanaman yang berumur panjang tersebut hingga bisa
menikmati keindahannya setiap saat.
Tanaman
yang dipelihara secara khusus di dalam pot puluhan tahun lamanya, tentu
tidak dapat tumbuh secara normal. Pohon-pohonan hambatan pertumbuhan,
yang semula dapat tumbuh beberapa meter tingginya dengan pemeliharaan
khusus tersebut pertumbuhnya menjadi kerdil. Selain kerdil tanaman ini
juga dimanipulasi agar memiliki bentuk yang menarik sesuai dengan
kreatifitas pemeliharanya.
Membentuk tanaman yang kerdil dan
memeliharanya hingga beberapa ratus tahun lamanya, merupakan suatu seni
sendiri. Bentuk kekerdilan pohon tersebut dipertahankan dan diwariskan
pada keturunannya oleh pencipta pertamanya.
Seni "pohon kerdil"
ini yang sebenarnya mulai dikembangkan di Tiongkok sejak abad sebelas,
mulai masuk ke Jepang pada abad lima belas. Di Jepang diberi teknik atau
seni mengkerdilkan tanaman ini diberi nama "bonsai". Gambar-gambar
bonsai ini banyak menghiasi barang-barang keramik yang cukup indah.
Seni
bonsai dari Jepang setelah perang dunia II menjalar ke dunia barat dan
Amerika Serikat. Akhirnya negara lain pun ikut serta dalam seni
pengerdilan pohon.
Seni Bonsai di Jepang
Seni
bonsai di Jepang pada hakikatnya tumbuh sebagai Kelanjutan dari sifat
orang-orang Jepang sendiri, yang sangat menyukai keindahan alam yang
beraneka ragam bentuk dan warna. Tanaman kerdil yang aneh bentuknya
namun sehat pertumbuhannya di dalam pot dipandangnya sebagai simbol dari
sifat daya tahan atau "survive". Tahan terhadap keganasan alam bebas
yang dapat merusak namun sekaligus menciptakan tanaman yang kuat
bertahan hidup.
Tidak bisa dibayangkan betapa besar ketabahan
tanaman yang semestinya dapat tumbuh tinggi tegak lurus, tapi dipaksa
untuk tumbuh melengkung dan tetap kerdil. Namun, tanaman adalah tanaman,
yang bersifat pasif. Dilengkungkan bisa, dipotong bisa, dibuat tumbuh
miring juga bisa, dan sebagainya. Asal, yang memperlakukannya tahu
bagaimana cara memaksa tanaman yang akan dikerdilkan. Bila rahasia
pengkerdilan sudah ditemukan, maka tanaman yang telah kerdil itu akan
menyuguhkan keindahan dengan bentuk yang menarik dan mengesankan,
sehingga pemiliknya mencintai kreasinya.
Pada mulanya penggemar
tanaman kerdil mencari bahannya di alam bebas, yaitu tanaman yang
tumbuhnya merana namun masih survive, untuk ditanam di dalam pot.
Kemudian tanaman ini dipelihara dengan mempertahankan bentuk aslinya.
Lambat laun, tanaman yang kerdil tersebut jarang didapatkan di alam
bebas. Padahal kegemaran membuat bonsai masih tetap tinggi. Situasi dan
kondisi tersebut memaksa penggemar-penggemar bonsai maupun pengusaha
tanaman bonsai mengusahakan secara besar-besaran. Mulai abad kesembilan
belas, pencarian atau pengumpulan bahan bonsai di alam bebas dihentikan.
Pembentukan bonsai dimulai dari pembibitan dan dilahirkanlah bayi-bayi
bonsai. Bentuk bayi bonsai ini berupa semai, stek, maupun cangkok.
Sistem ini berkembang dan meluas ke dunia barat hingga Amerika Serikat.
Pada
hakikatnya seni bonsai adalah meniru atau membuat tiruan dari bentuk
tanaman yang ada di alam bebas yang tumbuhnya merana akibat keganasan
alam. Pohon-pohon yang kerdil ini di Indonesia juga disebut dengan nama
bonsai dan sudah dikembangkan dan dijual-belikan dengan harga puluhan
ribu rupiah. Ini suatu per tanda yang baik, bahwa masyarakat Indonesia
sudah mulai mengagumi seni bonsai.
Nama-nama Bonsai di Jepang
Seni
bonsai di Jepang sudah menghasilkan karya yang cukup mengagumkan,
dengan beraneka ragam bentuk dan rangkaiannya. Pemberian nama bonsai
biasanya berdasarkan tinggi, bentuk, dan banyaknya tanaman yang
dirangkai. Sehingga dikenal beberapa jenis bonsai.
Berdasarkan tingginya tanaman bonsai dibagi menjadi
- Mame bonsai, berukuran sangat mini 12,5-15 cm. Potnya tidak lebih besar dari cawan tempat minum sake.
- Ko
bonsai, tingginya 15-30 cm. Jenis bonsai ini sangat terkenal. Tinggi
bonsai dibanding dengan tinggi pot, antara 3 : 1. Tinggi tanaman diukur
dari atas tanah di dalam pot.
- Chiu bonsai, tingginya hingga 60 cm sehingga mudah untuk ditangani
- Dai
bonsai. Dai berarti besar, maka tinggi dai bonsai lebih dari 60 cm.
Potnya berukuran lebih besar dan berat sehingga tidak mudah
dipindah-pindahkan. Oleh karena itu penempatannya sering di kebun atau
taman-taman.
Berdasarkan bentuknya tanaman bonsai dibagi menjadi
- Chokkan bila batang pokoknya tegak lurus.
- Tachiki bila batang pokoknya tegak dan berliku-liku.
- Han kengai, batang pokoknya tumbuh setengah menggantung.
- Kengai, batang pokok menggantung seperti air terjun.
- Shakan bentuk batang pokoknya agak miring.
Berdasarkan banyaknya tanaman yang dirangkai dalam satu pot tanaman bonsai dibagi menjadi
- Yose-ue,
bila dirangkai 3-4 batang pohon dengan gabungan 2 pohon tinggi dan 1
pohon rendah atau 1 pohon tinggi dengan 2 pohon rendah.
- Kabumono,
satu batang pokok dengan satu atau lebih batang sekunder yang mempunyai
ketinggian tertentu, terdiri dari 2 batang atau lebih.
- Ne-suranari, bila beberapa batang pokok tumbuh dekat pangkal akar.
- Ishi tsuki, batang pokok tumbuh dengan perakaran yang melingkari batu.
- Bonkei, bentuk kebun mini dari pepohonan mini yang dirangkai dengan cara lain, misalnya batu-batuan, boneka, dan sebagainya.
Dari uraian tersebut beberapa hal penting mengenai tanaman bonsai dapat disimpulkan bahwa :
- dalam sebuah pot dapat ditanam sebatang pohon atau lebih,
- batang pokok dapat berbentuk tunggal atau lebih,
- bentuk batang pokok dapat tegak lures atau berkelok-kelok,
- sikap batang pokok dapat tegak, miring, atau setengah menggantung,
- leher akar dapat tumbuh rata dengan tanah atau berada di atas tanah seperti halnya akar bersirip pada tanaman getah perca, dan
- bonsai dapat dirangkai dengan benda-benda lain.
Bagi
seseorang yang baru ingin mulai mengembangkan daya kreasinya membentuk
bonsai, terlebih dahulu memerlukan bekal pengetahuan ala kadarnya
tentang tumbuh-tumbuhan. Membuat bonsai pada hakikatnya mempengaruhi
bagian-bagian tanaman sedemikian rupa sehingga tampil pertumbuhan yang
dikehendaki. Perlu diingat, bahwa tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk yang
hidup, walaupun bersifat pasif, tetapi akan memberikan reaksi terhadap
setiap gangguan pada tubuhnya.
Organ-organ Tanaman Bonsai dan Sifatnya
Hingga
saat ini tanaman bonsai pada umumnya termasuk keluarga dikotil atau
tanaman yang bijinya berkeping dua. Maka dari itu uraian tentang
bagian-bagian tanaman bonsai di bawah ini khusus ditunjukkan terhadap
tanaman yang berkeping dua.
Bagian tanaman dapat dibagi dalam dua
bagian, yaitu bagian vegetatif (organum nutritivum) dan bagian
generatif (organum reproductivum). Landasan membuat bonsai biasanya
dilakukan dengan mengambil bagian vegetatif saja, karena bagian
generatif kurang peranannya dalam membentuk bonsai.
Pembagian vegetatif untuk membuat bonsai
- Bagian
tanaman yang berada di atas tanah berupa batang pokok, dahan, ranting,
dan daun. Berada di lingkungan udara terbuka dan lembap, serta tertimpa
sinar matahari dan suhu udara yang tidak merata.
- Bagian yang
berada di dalam tanah, yaitu perakaran yang tumbuhnya ke bawah atau ke
dalam tanah dan bersifat menghindari sinar matahari.
Bagian ini terdiri atas akar tunjang dan akar lateral.
- Akar tunjang atau ,akar pokok yang tumbuhnya lurus ke bawah.
- Akar
lateral yang tumbuhnya mendatar dan keluar dari dekat leher akar. Akar
lateral ini disebut pula feeders. Akar ini pun dapat bercabang-cabang
dan beranting dan berakhir pada akar serabut yang fungsinya khusus untuk
mengisap zat makanan yang larut dalam air.
Sifat dan fungsi bagian vegetatif untuk membuat bonsai
- Batang pokok
Dapat
meningkatkan tinggi karena dilengkapi dengan titik tumbuh pada
pucuknya. Lingkaran batangnya pun dapat membesar karena dilengkapi
dengan jaringan khusus yang disebut kambium. Letak kambiurn di atas kayu
dan di bawah kulit. Tinggi batang pokok dapat dihentikan dengan
membuang titik tumbuh. Bila titik tumbuh hilang, sebagai reaksinya
kuntum-kuntum di ketiak bagian bawah akan tumbuh. Terbentuklah pucuk
atau ujung batang pokok baru.
- Dahan
Tumbuh dari kuntum
yang berada di ketiak daun pada batang pokok yang masih muda. Tumbuhnya
mendatar atau membentuk sudut kurang dari 90 derajat. Dengan adanya
dahan-dahan tersebut akan terbentuk mahkota pohon yang konis, piramidal,
bulat telur, bulat panjang, dan sebagainya. Perpanjangan dahan dapat
dihentikan dengan memotong titik tumbuhnya. Reaksinya akan mempercepat
pertumbuh ranting.
- Ranting
Tumbuhnya dari kuntum yang
berada di ketiak dahan. Dapat tumbuh ke arah yang beranekaragam, namun
rata-rata tumbuh keluar arah dahan. Pertumbuhan ranting dapat dihentikan
dengan reaksi membentuk ranting-ranting baru.
- Kuntum
Kuntum
dapat berada di titik tumbuh, ketiak daun, dan ada pula yang terpendam
(tidak kelihatan) yang setiap waktu dapat tumbuh sebagai ranting atau
dahan baru. Kuntum ini diberi nama kuntum adventif. Dari kuntum ini
dapat keluar ranting baru.
Batang pokok, dahan, maupun ranting dapat diubah arah pertumbuhannya bila masih muda, karena batangnya masih lemas (elastis).
- Akar
Akar
sifatnya menghindari sinar matahari. Sifat ini disebut negatif
fototropis. Pertumbuhan akar tidak kaku, yang berarti dapat menyesuaikan
diri dengan ruang sekitarnya di mana mereka berada. Misalnya akar
tunjang menjadi lateral bila tumbuhnya terhalang oleh suatu benda yang
tidak dapat ditembus. Sebagai contoh, akar tanaman di dalam pot atau
keranjang akan melingkar-lingkar bila sudah tua umurnya. Akar dapat
dipangkas untuk menghasilkan cabangcabang baru yang dikehendaki atau
untuk diremajakan. Akar sifatnya mudah mengering bila diletakkan di
udara terbuka, atau bila tanpa pembungkus.
Dikenal jenis-jenis akar yang khas dan sering kelihatan pada tanaman bonsai, ialah :
- akar angin, yang tumbuh dari dahan atau batang pokok (pohon beringin)
- akar
sirip, berbentuk sirip, tumbuh dari dekat pangkal akar, kelihatan jelas
di atas tanah. Contoh; akar sirip dari getah perca (Ficus elastica).
Fungsi Bagian Tanaman
Organ-organ
tanaman yang berada di atas tanah tidak dapat dipisahkan dari
organ-organ yang berada di dalam tanah. Akibat pertumbuhan perakaran
akan berdampak pada pertumbuhan batang pokok, dahan, dan sebagainya.
Fungsi daun pada bonsai
Daun
merupakan pusat untuk menghasilkan zat karbohidrat, protein, dan lemak.
Ketiga zat ini dibentuk melalui proses fotosintesis. Yang diperlukan
dari proses tersebut adalah:
- hijau daun yang sehat,
- sinar matahari,
- udara yang mengandung zat asam arang (CO2), dan
- air.
Hijau
daun agar dapat berfungsi dengan baik memerlukan nitrogen (N) dalam
bentuk zat nitrat yang larut di dalam air. Bila kekurangan zat N, daun
kelihatan menguning.
Air dan matahari dalam proses fotosintesis
merupakan faktor penentu keberhasilan. Ketiga zat tersebut di atas
merupakan zat makanan bagi bagian tanaman di atas tanah maupun untuk
perakaran. Tanpa hasil fotosintesis akar akan menderita. Mula-mula busuk
dan akhirnya mati. Apabila akar mati, bagian yang di atas tanah secara
konsekuen akan ikut mengering.
Selain menghasilkan ketiga zat
tersebut, daun masih dapat menghasilkan lain-lain zat, misalnya vitamin
B1 yang berfungsi sebagai zat penumbuh akar, berbagai jenis enzim, dan
sebagainya.
Khususnya pucuk ranting dapat menghasilkan zat
auksin, sejenis hormon nabati yang berfungsi sebagai pendorong
pertumbuhan. Hormon auksin ini disalurkan ke arah bawah dan apabila
mengumpul pada ketiak-ketiak daun yang ada kuntumnya, maka hormon ini
akan berfungsi sebagai zat penghambat tumbuh yang dalam Bahasa Belanda
disebut remstof. Remstof ini akan aktif kembali bila produksi auksin
dari pucuk terhenti, misalnya karena dipangkas.
Dari uraian yang
singkat tersebut dapat disimpulkan, bahwa bila pertumbuhan pucuk
senantiasa terhadang sebagai akibat dari pemangkasan, maka tanaman akan
sangat kekurangan hormon pertumbuhan. Perakarannya pun terbatas. Namun
kehidupannya tetap bertahan karena tanaman masih dapat menghasilkan
vitamin B1 dari daun yang sudah tua.
Pengendalian produksi hormon
auksin ini merupakan salah satu faktor untuk memperlambat pertumbuhan
tanaman sehingga tanaman menjadi kerdil.
Selain itu, daun pada
tanaman bonsai juga berfungsi sebagai pembentuk nilai seni, sehingga
pada saat melakukan pemangkasan daun juga hurus memperhatikan keindahan
tanaman.
Fungsi akar pada bonsai
Fungsi
akar yang utama adalah untuk menyerap zat-zat mineral yang larut dalam
air dari tanah. Zat-zat mineral ini pada umumnya diperlukan untuk
pertumbuhan tanaman. Air yang diserap bersama zat mineral diperlukan
untuk fotosintesis. Tanaman yang kekurangan air akan kelihatan layu,
terutama bagian-bagian yang masih relatif muda. Zat hara yang
diperlukan untuk pertumbuhan tanaman adalah nitrogen (N), fosfat (P),
kalium (K), kalsium (Ca), besi (Fe), magnesium (Mg), Sulfur (S)dan
sebagainya. Zat ini harus berada di dalam media dengan jumlah yang
memadai. Kekurangan zat-zat tersebut dapat dipenuhi melalui pemupukan.
Sewaktu ranting aktif, umumnya akar beristirahat. Maka dalam memindahkan
tanaman dari pot yang lama ke pot yang baru sebaiknya sewaktu akar
sedang aktif. Karena saat akar aktif tidak ada kuntum yang tumbuh dan
ranting-ranting barupun tidak terbentuk.
Bibit bonsai atau bakal bonsai
Bibit bonsai dapat diperoleh dengan berbagai cara, diantaranya adalah:
- biji yang khusus disemaikan atau dari semai yang ada di alam bebas,
- stek atau cangkok, yang pembuatannya memerlukan sedikit keterampilan,
- okulasi, sambung, dan
- bongkah-bongkah tanaman yang masih bertunas dan masih kelihatan bertahan untuk hidup.
Semai Bakal Bonsai
Bibit
bonsai yang berasal dari penyemaian memiliki kelemahan yang cukup
signifikan. Kelemahan tersebut berkaitan dengan waktu pemeliharaan yang
cukup lama sehingga bisa menurunkan semangat atau gairah untuk membentuk
tanaman bonsai. Tidak cukup dibutuhkan waktu satu atau dua tahun untuk
menjadikan tanaman yang berasal dari bibit semai memiliki daya tarik
dalam seni bonsai. Mungkin akan memakan waktu lima hingga limabelas
tahun. Hal yang sangat menjemukan tentunya. Namun, bibit bonsai yang
berasal dari persemaian ini memiliki nilai tambah tersendiri terutama
bagi pembuatnya. Waktu pemeliharaan yang begitu lama dapat memberikan
sebuah kepuasan atas penciptaan karya seni yang tidak terhitung
nilainya.
Stek, Cangkok, Okulasi, dan sambung untuk tanaman bonsai
Menyetek,
mencangkok, dan membuat okulasi merupakan seni sendiri. Menyetek dan
mencangkok dapat menghasilkan tanaman baru dalam jangka waktu yang
relatif singkat (1-2 bulan). Sedang membuat okulasi membutuhkan waktu
lebih dari 1 tahun.
- A. Stek
Sebelum
praktek membuat stek perlu disadari bahwa tidak setiap jenis tanaman
bisa distek. Dikenal 3 jenis stek untuk bibit bonsai, yaitu stek lunak,
stek setengah lunak, dan stek keras.
Perbedaan antara tiga jenis stek tersebut adalah sebagai berikut.
- Stek lunak dibuat dari pucuk ranting/cabang muda yang masih dalam masa tumbuh,
- Stek
setengah lunak dibuat dari ranting/cabang yang sudah berhenti
pertumbuhannya dan mulai menua batang maupun daunnya. Tetapi, batangnya
masih belum mengayu. Umurnya tidak kurang dari satu tahun, berukuran
sebesar pensil, dan masih berdaun.
- Stek keras adalah dahan yang sudah berumur tak kurang dari satu tahun, berukuran sebesar pensil dan masih berdaun.
Cara membuat ketiga jenis stek tersebut adalah sama. Langkah pembuatannya sebagai berikut.
- Siapkan
media berbentuk campuran kompos halus dan pasir yang bersih dari
lumpur. Dapat juga dipergunakan serbuk gergaji kayu. Perbandingan antara
pasir dan kompos adalah 1 : 1.
- Masukkan media di dalam pot
atau bak dari kayu yang kedalamannya minimum 10 cm. Isi pot atau bak
hingga 3 cm di bawah bibir pot atau bak.
- Kemudian basahi media dalam pot dengan air yang bersih dan biarkan air yang berlebihan mengalir keluar.
- Untuk
stek lunak dan setengah lunak, potong ranting sepanjang 10-12,5 cm di
bawah tangkai daun. Diameter stek ± 0,5 cm. Buang daun bagian bawah,
kurang lebih setengah dari seluruh daun.
- Untuk stek keras
panjang ranting atau dahan 15-20 cm, dan dipotong di bawah bagian
setengah lunak di atas kuntum daun, sedangkan di bagian bawah dipotong
di bawah kuntum daun. Paling sedikit 3 helai daun dibiarkan di atas
bagian atas stek. Daun yang lebar dipotong setengahnya.
- Manfaatkan zat perangsang tumbuh (ZPT) dalam bentuk tepung atau cairan. Masukkan 2-3 cm pangkal stek ke dalam zat tersebut.
- Masukkan pangkal stek ke dalam media.
- Kerudungi stek dengan plastik yang tembus sinar, setelah sebelumnya disemprot dengan sprayer.
- Letakkan di tempat yang teduh.
- Bila dalam waktu 1 minggu daun pucuknya masih segar, kemungkinan besar stek akan berakar.
- Bergantung pada jenis tanaman, umumnya pada umur 1 bulan atau lebih stek sudah dapat dipindahkan ke dalam pot individu.
- Dalam
pot individu ini stek dibiarkan tumbuh hingga cukup besar untuk
dijadikan bonsai. Usahakan jangan sampai semaian stek ini mengalami
kekeringan, jaga kelembapannya. Namun, jangan sampai terlalu banyak air.
Pada umumnya stek keras lebih lama mulai berakarnya.
- B. Cangkok
Untuk membuat cangkok pilihlah dahan minimal sebesar pensil atau ibu jari, dan kulitnya mudah dikelupas (tidak lengket).
Teknik membuat cangkok :
- kupas kulit dahan selebar 3-5 cm,
- buang lendirnya dengan cara mengikis atau melap dengan kain yang kering,
- kemudian
tutup lukanya dengan mos yang sudah dibasahi atau ditutup dengan
campuran tanah yang remah dan kompos dengan perbandingan 1 : 1,
- balut mos atau tanah dengan lembaran plastik, dan ikat baik-baik di bagian atas dan bawah,
- lembaran plastik dilubangi dengan jarum agar terjadi peredaran udara.
Pertumbuhan
akar bergantung pada jenis tanaman. Biasanya dalam jangka waktu satu
sampai satu setengah bulan akar sudah mulai kelihatan tumbuh. Untuk
mempercepat pertumbuhan akar gunakan zat perangsang tumbuh. Dengan ZPT
pertumbuhan akar dapat dipercepat 2 minggu.
Bila perakaran sudah
cukup banyak maka cangkok dapat dipotong di bagian bawah. Saat memotong
ialah tunggu hingga dahan tidak mengeluarkan tunas baru. Cangkok
kemudian disemaikan di dalam pot, dan usahakan jangan sampai akarnya
rusak sewaktu dibuka pembungkus plastiknya. Siram semaian cangkok ini
dan tempatkan di tempat yang teduh. Bila tidak ada kendala dalam waktu
satu bulan kemudian, cangkok sudah dapat dijadikan bakal bonsai.
- C. Membuat okulasi
Bagi
yang telah biasa, melakukan okulasi tidaklah merupakan suatu masalah
yang pelik. Tetapi, tidak demikian halnya bagi seorang pendatang baru
yang ingin berkecimpung dalam seni bonsai dan harus memulai dengan
melakukan okulasi sendiri.
Bibit okulasi terdiri dari dua bagian ialah batang bawah (onderstam) dan batang atas (entrijs)
Kedua
bagian ini diperoleh dari tanaman yang genus, famili, atau varietasnya
sama. Biasanya batang bawah merupakan semaian biji. Rata-rata umur
batang bawah bisa diokulasi bila sudah berumur 1 tahun. Entres yang baik
adalah ranting yang sudah kelihatan agak mulai menua, bentuknya agak
bulat, warnanya hijau agak keabu-abuan, dan kulitnya tidak melekat pada
kayu.
Langkah-langkah dalam okulasi
- batang pokok dibersihkan dari ranting 15 cm di atas tanah.
- Buat irisan kulit 10 cm dari atas tanah selebar 8 mm dan menurun sepanjang 4 cm,
- Tarik irisan kulit ke bawah, sehingga berbentuk seperti lidah, kemudian potong setengahnya.
- Iris
mata dan dahan entres dengan sedikit kayunya, sepanjang 4 cm. Kerat
bagian atas 1 cm di atas irisan mata agar merata sehingga tepat melekat
pada keratan pohon pokok.
- Angkat kayu perlahan-lahan tanpa merusak mata tunasnya.
- Kulit
yang bermata tunas ini dimasukkan antara kayu dan lidah kulit batang
pokok, lalu lekatkan kembali. Usahakan matanya tidak tertutup.
- Balut dengan tali rafia seerat mungkin.
Perawatan selanjutnya
- Rata-rata
2 minggu setelah penempelan, kulit dengan mata tunasnya sudah melekat
pada batang pokok. Tali rafia sudah dapat dibuka. Tanda okulasi berhasil
ialah bila kulit dan mata tunas kelihatan masih hijau.
- Biarkan 3-5 hari. Apabila mata tunas masih tetap hijau, ini berarti mata tunasnya akan tumbuh.
- Kerat batang pokok dengan gunting pangkas sedalam setengahnya rata-rata 3-5 cm di atas penempelan.
- Lengkungkan pohon pokok
- Dengan sistem ini, yang diberi nama sistem lopping, tunas pada okulasi akan sangat cepat tumbuhnya.
- Bila tunas okulasi sudah tumbuh mencapai 15-20 cm tingginya, potong pohon pokok yang menyorong di atas tempat tempelan.
Dari
uraian singkat tersebut tergambar jelas betapa rumitnya membuat
okulasi. Selain lamanya menyemaikan biji batang pokok dalam kantung
plastik, juga berhasilan okulasi masih sangat rendah. Bibit okulasi
biasanya digunakan untuk membentuk 'Daibonsai' yang berukuran 80 cm atau
lebih. Jenisnya misalnya Psidium cujavillus (jambu cina) yang berbuah
kecil. Bibit okulasi juga sesuai untuk membuat tanaman buah-buahan semi
kerdil yang ditanam dalam drum atau di kebun, misalnya jeruk besar
(Citrus maxima), jeruk keprok (Citrus nobilis), asam (Tamarindus
indica), dan sawo Buren (Chrysophylum cainito).
Jenis-jenis Tanaman Untuk Bonsai
Tanaman
yang sesuai untuk bonsai pada umumnya termasuk keluarga besar dikotil
atau keluarga tanaman berkeping dua. Namun, dari keluarga monokotil ada
juga yang cukup menarik dijadikan tanaman kerdil misalnya jenis-jenis
bambu, bambu jepang (Bambusa glaucescens), bambu kuning (Bambusa
vulgaris var. striata), dan bambu hitam (Gigantochloa atraviolarPn),
serta kelapa gading (Cocos nucifera).
Pada umumnya jenis tanaman
yang dipilih dan dapat menyesuaikan diri dengan baik untuk seni bonsai
ialah tanaman yang berdaun dan berbunga; berdaun, berbunga, dan berbuah;
serta berumur panjang.
Di luar negeri banyak dimanfaatkan
jenis-jenis Conifer. Jenis-jenis Conifer ini juga sudah banyak ditanam
di seluruh Indonesia, di dataran rendah, maupun dataran tinggi, misalnya
Juniperus sp., Larix sp., Pinus sp. (P. mercusii), Thuya sp (C.glabra, C. sempervirens), Cedar dan
Abies concolor.
Jenis-jenis tanaman khas Asia yang telah sering dibonsaikan adalah:
- beringin (Ficus benyamina, Ficus varigata, dan sebagainya)
- getah perca (Ficus elastica)
- lo atau elo (Ficus glomerat)
- kawista (Feronia lucida dan F. elephantum)
- sawo kecik (Manilkara kauki)
- sawo duren (Chrysophylum cainito)
- sawo biasa (Agras sapota)
- cerme belanda (Eugenia uniflora)
- jambu biji var. kerikil (Psidium cujavillus Burm)
- jeruk kingkit (Triphasia aurantiola, T. trifolia)
- Carissa carandas
- juwet kerikil (Euginia cumini sp. )
- nam-nam atau puki anjing (Cynomertra caulidolia)
- Myrthe sp.
- bugenvil (Bougainvillea sp. )
- Azalea
- kaca piring (Gardenia augusta)
- kayu putih (Eucaliptus sp. )
- huru batu atau puspa (Schima noronhae)
- kayu manis hutan (Cinnamomum iners)
- cempaka kuning (Michelia champaka)
- asam (Tamarindus indica)